Untuk Siapa Amalmu?!

/ Oleh / Akhlak, Ibadah, Nasehat / No comments
Untuk Siapa Amalmu?!

Hisyam ad-Dastuwa’i berkata,

Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa pada suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (Ta’thirul Anfas, hal. 254)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam keadaan condong kepada-Nya.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan pahala sedekah-sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit kebaikan dan menyakiti [perasaan si penerima], seperti halnya orang yang menginfakkan hartanya karena ingin dilihat oleh manusia.” (QS. al-Baqarah: 265)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Mereka [orang munafik] itu ingin dilihat oleh manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.” (QS. an-Nisaa’: 142)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Katakanlah, apabila kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam hati kalian ataupun menampakkannya maka Allah pasti mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 29)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Tidak akan sampai kepada Allah daging [kurban] dan tidak juga darahnya, akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. al-Hajj: 37)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Katakanlah; Sesungguhnya sholatku dan sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya adalah untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163)

Abu Hazim berkata,

Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Ta’thirul Anfas, hal. 231)

al-Fudhail bin Iyadh berkata,

Ilmu dan amal terbaik adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia.” (Ta’thirul Anfas, hal. 231)

Dari Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhiir, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari,

Bagaimana sholat malammu?”. Maka beliau pun marah sekali, beliau berkata, “Demi Allah, sungguh satu raka’at yang aku kerjakan di tengah malam dalam keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam suntuk kemudian hal itu aku ceritakan kepada orang-orang.” (Ta’thirul Anfas, hal. 234)

Ibrahim bin Adham berkata,

Janganlah kamu bertanya kepada saudaramu tentang puasanya. Sebab kalau dia menjawab, ‘Aku sedang puasa.’ Maka nafsunya akan senang dengan itu. Dan apabila dia menjawab, ‘Aku tidak puasa.’ Maka nafsunya pun merasa sedih. Sedangkan keduanya adalah termasuk ciri-ciri riya’. Perbuatan itu bisa mencoreng muka orang yang ditanya dan [termasuk] tindakan membuka aurat oleh penanya.” Maka beliau -Ibrahim bin Adham- apabila ditawari makan sementara beliau sedang puasa (sunnah) maka beliau pun makan dan tidak mau mengatakan, “Saya sedang puasa.” (Ta’thirul Anfas, hal. 245-246)

ats-Tsauri berkata,

Tangisan itu ada sepuluh macam, yang sembilan untuk selain Allah dan satu untuk Allah. Apabila dalam setahun tangisan untuk Allah itu datang sekali saja, maka itu sudah dianggap banyak.” (Ta’thirul Anfas, hal. 247)

Ibnul Jauzi berkata,

Ibnu Sirin adalah orang yang suka berbincang-bincang di siang hari dan [terkadang] tertawa. Tatkala malam telah datang seolah-olah dia telah membunuh seluruh penduduk kota.” (Ta’thirul Anfas, hal. 248)

Muhammad bin Wasi’ berkata,

Sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang, yang mana seorang lelaki di antara mereka kepalanya berada satu bantal dengan kepala istrinya dan basahlah apa yang berada di bawah pipinya karena tangisannya akan tetapi istrinya tidak menyadari hal itu. Dan sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang yang salah seorang di antara mereka berdiri di shaf [sholat] hingga air matanya mengaliri pipinya sedangkan orang di sampingnya tidak mengetahui.” (Ta’thirul Anfas, hal. 249)

Mu’awiyah bin Qurrah berkata,

Siapakah yang mau menunjukkan kepadaku orang yang suka menangis di malam hari dan murah senyum di siang hari?” (Ta’thirul Anfas, hal. 251)

Mu’awiyah bin Qurrah juga berkata,

Tangisan hati itu lebih baik daripada tangisan mata.” (Ta’thirul Anfas, hal. 252)

Imam asy-Syafi’i berkata,

Aku sangat ingin orang-orang mengetahui ilmu ini -yang beliau sampaikan, pent- dalam keadaan tidak disandarkan kepadaku satu huruf pun darinya.” (Ta’thirul Anfas, hal. 254)

Ibrahim at-Taimi adalah seorang ulama yang suka mengenakan pakaian ala anak muda. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau beliau itu ulama kecuali sahabat-sahabatnya. Beliau pernah berkata,

Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (Ta’thirul Anfas, hal. 252)

Abul Aliyah berkata: Para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku,

Janganlah kamu beramal untuk selain Allah. Karena hal itu akan membuat Allah menyandarkan hatimu kepada orang yang kamu beramal karenanya.” (Ta’thirul Anfas, hal. 568)

Abdullah ibnu Mubarak berkata,

Kalau ada dua orang yang berteman di perjalanan, kemudian salah satunya ingin menunaikan sholat [sunnah] dua rakaat, lalu dia meninggalkannya karena temannya [bukan karena Allah, pent] maka itu adalah riya’, demikian juga apabila mereka berdua mengerjakannya karena temannya [bukan karena Allah, pent] maka itu adalah syirik.” (Ta’thirul Anfas, hal. 570)

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan

Artikel: Pemuda Muslim