Ternyata Al-Quran Mengajarkan Cara Membuat Roti

/ Oleh / al-Qur'an, Kisah / 1 Comment
Ternyata Al-Quran Mengajarkan Cara Membuat Roti

Sebuah kisah yang bagus, yang penulis dapatkan dari kajian kitab Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid bersama Al-Ustadz Aris Munandar hafidzahullah. Kisah yang dimuat dalam kitab Syarh Kasyfusy Syubhat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau menukil kisah seorang ‘ulama[1] yang ditanya oleh seorang nashara, dengan maksud pertanyaan melecehkan Al-Quran.

Orang nashara itu pun bertanya dengan nada mencela, “Dimanakah penjelasan (di dalam Al-Quran) yang menunjukkan bagaimana membuat makanan ini (roti)?”

Kemudian ‘ulama tersebut mengajak orang nashara pergi ke tukang pembuat roti, lalu berkata kepada tukang pembuat roti, “Ceritakanlah kepada kami bagaimana cara membuat makanan ini?” Maka tukang roti tersebut menjelaskannya.

‘Ulama itu berkata,”Hal yang kau tanyakan ini telah ada di dalam Al-Quran.” Si nashara tadi heran dan bertanya, “Bagaimana bisa?”

Sang ‘ulama pun menjawab,

“Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya: 12)[2]

Dalam kisah di atas, jelaslah bahwa kunci dari segala sesuatu adalah bertanya kepada orang yang berilmu (tentunya berilmu di dalam bidangnya masing-masing). Si nashara bermaksud mencela Al-Quran dengan bertanya cara membuat roti, memang tidak ada cara membuat roti di dalam Al-Quran, namun terdapat ayat yang menjelaskan untuk bertanya kepada orang yang berilmu jika tidak mengetahui perkara tersebut. Maka jelaslah bahwa jika kita tidak mengetahui suatu hal, tanyakan kepada yang lebih berilmu.

Kisah di atas juga menunjukkan bahwa bertanya itu kepada orang yang berilmu di bidangnya, bukan bertanya ke sembarang orang. Ketika tidak tahu cara membuat roti, bertanya kepada tukang roti. Terlebih lagi yang ditanyakan adalah masalah akhirat, tentu tidak sembarang orang bisa dijadikan tempat bertanya. Harus bertanya kepada seorang ‘ulama yang menguasai ilmu agama.

Sebagai contoh kasus dari kisah di atas, sebagian orang memiliki anggapan bahwa hukum merokok itu adalah makruh, bahkan ada yang mengatakan mubah. Mereka beralasan bahwa tidak ada ayat dari Al-Quran dan hadits Nabi yang menjelaskan bahwa rokok itu adalah haram hukumnya. Ibaratnya mereka bertanya, mana dalil yang mengharamkan rokok?

Coba kita lihat, betapa banyak manusia yang meninggal disebabkan oleh rokok, padahal Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih bagi kalian.” (QS. An-Nisa`:29)

Betapa banyak juga harta yang dikeluarkan oleh seseorang untuk membeli rokok per harinya, dan hal ini adalah suatu pemborosan. Padahal Allah melarang kita dalam firmannya,

…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan…” (QS. Al-Israa: 26-27)

Para perokok itu pasti pernah melihat peringatan yang ada di balik bungkus rokok yang kurang lebih bunyinya “merokok itu dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.” Begitu banyak akibat dari rokok yang sangat membahayakan bagi tubuh manusia. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Janganlah melakukan sesuatu yang membahayakan (orang lain) dan membahayakan (diri sendiri).” (HR. Ahmad)

Terakhir, merokok itu membahayakan orang lain karena mereka bisa menjadi perokok pasif, dan hal itu adalah suatu bentuk kezhaliman terhadap sesama muslim lainnya. Semoga tulisan ini bermanfaat.


[1] Syaikh Muhammad ‘Abduh, terjadi di Perancis (dinukil dari Ustadz Aris)

[2] Syarh Kasyfusy Syubhat, hal. 72

  • http://www.facebook.com/diardy.shaumanrachmatan Diardy Shauman Rachmatan

    syukron infonya..