Mutiara Hikmah Surat al-Fatihah [Bagian 8] – Kasih Sayang Allah

/ Oleh / al-Qur'an, Aqidah / No comments
Mutiara Hikmah Surat al-Fatihah [Bagian 8] – Kasih Sayang Allah

Pelajaran Keempat: Kasih Sayang Allah

Di dalam ayat ar-Rahmanir Rahim terkandung penetapan salah satu sifat Allah, yaitu sifat rahmat/kasih sayang. Rahmat Allah itu maha luas, baik rahmat yang meliputi semua makhluk maupun rahmat yang hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, dalam al-Majmu’ah al-Kamilah [1/33])

A. Perbedaan ar-Rahman dan ar-Rahim

Nama ar-Rahman bermakna Allah pemilik rahmat yang maha luas mencakup seluruh makhluk di dunia dan bagi kaum beriman di akherat. Adapun nama ar-Rahim bermakna Allah pemilik rahmat bagi kaum beriman kelak pada hari kiamat (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 15). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata, “ar-Rahman artinya sosok yang melekat pada dirinya sifat kasih sayang (rahmat), sedangkan ar-Rahim artinya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 99-100).

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

ar-Rahman yaitu apabila dimintai pasti memberi. Adapun ar-Rahim adalah jika tidak dimintai maka dia marah.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/27], Fath al-Bari [8/180])

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah maka Allah pasti murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373 dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani). Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah marah kepadanya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 1857)

B. Konsekuensi Kasih Sayang Allah

Konsekuensi dari sifat rahmat ini adalah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia demi kebahagiaan hidup mereka. Perhatian Allah untuk itu jelas lebih besar daripada perhatian Allah untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan biji-bijian di atas muka bumi ini. Siraman air hujan membuahkan kehidupan tubuh jasmani bagi manusia. Adapun wahyu yang dibawa oleh para rasul dan terkandung di dalam kitab-kitab merupakan sebab hidupnya hati mereka (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 8).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak ada yang lebih menyukai pujian kepada dirinya melebihi Allah. Oleh sebab itu Allah memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada yang lebih pencemburu melebihi kecemburuan Allah. Oleh sebab itu Allah mengharamkan berbagai perbuatan keji.” Dalam salah satu riwayat juga disebutkan, “Dan tidak ada yang lebih suka memberikan udzur/toleransi melebihi Allah. Oleh sebab itu Allah menurunkan kitab dan mengutus para rasul.” (HR. Bukhari no. 4634 dan Muslim no. 2760)

C. Kandungan Pilar Ibadah

Di dalam ayat ar-Rahmanir Rahim terkandung salah satu pilar ubudiyah yaitu roja’/harapan. Dengan merenungkan ayat ini seorang hamba akan senantiasa mengharapkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tentu saja kasih sayang-Nya sangatlah diharapkan (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 18)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas kepada dirinya; Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala macam dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53)

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla senantiasa membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu siang dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim no. 2759)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari arah tenggelamnya niscaya Allah masih menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 2703)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dahulu di kalangan Bani Isra’il ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa manusia. Kemudian dia pun keluar dan mendatangi seorang rahib, lalu dia bertanya kepada rahib itu. Dia mengatakan, “Apakah aku masih bisa bertaubat?”. Rahib itu menjawab, “Tidak.” Maka lelaki itu pun membunuhnya. Setelah itu, ada seseorang yang memberikan saran kepadanya, “Datanglah ke kota ini dan itu.” Kemudian di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ajal menjemputnya. Dia meninggal dalam keadaan dadanya condong ke arah kota tujuannya. Terjadilah pertengkaran antara Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Allah pun mewahyukan kepada kota yang satu, “Mendekatlah.” Dan Allah mewahyukan kepada kota yang lainnya, “Menjauhlah.” Lalu Allah memerintahkan, “Ukurlah berapa jarak antara keduanya.” Ternyata didapati bahwa lelaki tersebut lebih dekat sejengkal dengan kota yang baik; maka diampunilah dia.” (HR. Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766, ini lafal Bukhari)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh, Allah jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang yang luas namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah ada berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi, dan karena saking bergembiranya dia pun berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.’ Dia salah berucap gara-gara terlampau gembira.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747, lafal milik Muslim)

D. Faidah ‘ar-Rahman ar-Rahim’

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faidah ilmu dan hikmah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini:

  • Penetapan sifat rahmat/kasih sayang. Rahmat adalah salah satu sifat Allah ‘azza wa jalla. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu Maha Kaya, Sang Pemiliki Rahmat/kasih sayang.” (QS. Al-An’am: 133). Rahmat berbeda dengan irodah/kehendak ataupun ihsan/berbuat baik. Sifat rahmat adalah sifat tersendiri yang muncul darinya kehendak untuk melimpahkan kebaikan/ihsan kepada makhluk
  • Penyebutan sifat rahman dan rahim pada diri Allah setelah penyebutan rububiyah Allah -pada ayat sebelumnya- menunjukkan bahwa rububiyah Allah adalah rububiyah yang dilandasi dengan rahmat dan ihsan/kebaikan bagi makhluk; yaitu dengan mendatangkan manfaat dan menolak madharat. Hal itu seperti ditunjukkan oleh firman Allah (yang artinya), “Apa pun nikmat yang ada pada kalian adalah berasal dari Allah. Kemudian apabila menimpa kalian bahaya maka kepada-Nya lah kalian kembali/berlindung.” (QS. An-Nahl: 53)
  • Dalam penyebutan sifat rahman dan rahim terkandung dalil bahwa rahmat Allah itu maha luas. Hal ini bisa dipetik dari nama ar-Rahman, sebab kata ar-Rahman -dalam bahasa arab- memiliki rumus ‘fa’lan‘ yang menunjukkan makna dipenuhi oleh sesuatu dan luas, seperti halnya kata ‘ghodhban‘ yang artinya dipenuhi kemarahan, dsb.
  • Dalam nama ar-Rahim terkandung penetapan bahwa Allah menyampaikan rahmat-Nya kepada siapa saja diantara hamba yang dikehendaki-Nya. Rahmat Allah terbagi dua; ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Rahmat yang bersifat umum dicurahkan kepada segenap makhluk; yaitu kasih sayang Allah dalam hal kehidupan dunia dan kebutuhan fisik mereka. Adapun rahmat yang bersifat khusus diberikan hanya untuk orang beriman; yang kasih sayang ini terus mereka dapatkan di dunia dan di akhirat berupa penjagaan diri dan agama mereka
  • Dalam ar-Rahman dan ar-Rahim terkandung bantahan bagi orang-orang yang menolak mensifati Allah dengan rahmat. Mereka mengatakan bahwa rahmat bukanlah sifat sebenarnya bagi Allah, menurut mereka maksud rahmat adalah irodatul ihsan/menghendaki kebaikan atau ihsan itu sendiri. Padahal, hukum asal pemaknaan sifat adalah secara hakiki. Sehingga nama ar-Rahman maknanya adalah yang memiliki sifat rahmat. Dan tidaklah melazimkan apabila Allah disifati dengan rahmat kemudian Allah serupa dengan makhluk. Rahmat Allah maha sempurna, sehingga penetapan sifat rahmat pada diri-Nya tidaklah menunjukkan kekurangan sebagaimana sifat rahmat pada makhluk/manusia yang terkadang muncul dari hikmah/kebijaksanaan dan terkadang bukan didasari hikmah (lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 14-16)

E. Pengaruh Iman Terhadap Rahmat Allah Bagi Perilaku Hamba

Keimanan terhadap sifat rahmat Allah ini memiliki banyak dampak positif dan pengaruh kuat terhadap jiwa dan perilaku seorang hamba. Diantaranya adalah:

Pertama: Menumbuhkan kecintaan kepada Allah. Dimana Allah telah menganugerahkan berbagai macam nikmat kepada hamba-hamba-Nya. Termasuk di dalam cakupan nikmat ini adalah apa yang disyari’atkan oleh-Nya. Misalnya, Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Hanya saja Allah mengharamkan kepada kalian bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih untuk selain Allah. Barangsiapa yang terpaksa, tanpa melampaui batas dan tidak berlebihan [sehingga memakannya] maka tidak ada dosa atasnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173)

Maka, apabila seseorang tidak mendapatkan makanan pada keadaan dia sangat lapar dan hampir mati kecuali bangkai, maka ketika itu diperbolehkan baginya untuk memakan bangkai. Tidak ada dosa atasnya. Maka keringanan ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu hal ini akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seorang hamba kepada Rabbnya.

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya),

Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian. Sesungguhnya Allah adalah sangat penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)

Oleh sebab itu segala perkara yang menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dilarang oleh Allah. Perbuatan bunuh diri dengan segala macam bentuk dan sebabnya. Hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah kepada seorang hamba. Dan tentu saja hal itu akan membuahkan rasa cinta di dalam hati seorang hamba kepada Rabbnya.

Kedua: Iman kepada rahmat Allah akan membukakan pintu roja’/harapan terhadap ampunan dan kasih sayang-Nya. Sehingga seorang hamba akan terbebas dari sikap putus asa terhadap rahmat Allah. Dan dengan keyakinan semacam ini seorang hamba akan mau bertaubat sebesar apapun dosa yang pernah dilakukannya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Maka barangsiapa yang bertaubat setelah kezaliman yang dilakukannya dan melakukan perbaikan, maka Allah akan menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 39)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya; Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala bentuk dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ketiga: Iman kepada rahmat Allah akan membuahkan pengaruh pada diri seorang hamba untuk menempuh sebab-sebab yang mengantarkan dirinya untuk menggapai rahmat-Nya yang sesungguhnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-A’raaf: 56)

Sementara makna dari berbuat ihsan tidak hanya terbatas berbuat baik kepada makhluk, bahkan termasuk makna ihsan yang tertinggi adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril yang sangat masyhur,

[Ihsan] adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Dan apabila kamu tidak sanggup beribadah seolah melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia Melihat dirimu.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu)

Maka siapa saja yang ingin menggapai rahmat Allah hendaklah dia berbuat ihsan dalam beribadah, yaitu dengan mentauhidkan-Nya dan menjauhi syirik, ikhlas dan tidak riya’, memurnikan ibadah untuk Allah semata, bukan untuk mencari kesenangan dunia atau popularitas di kalangan manusia. Selain itu, hendaklah dia juga bergaul dengan manusia dengan akhlak yang utama. Inilah sebab untuk meraih rahmat dan ridha-Nya.

Dengan merenungkan manfaat dan pengaruh yang timbul dengan beriman terhadap sifat rahmat Allah inilah, kita bisa menyadari betapa dalam hikmah yang terkandung di dalam ayat ar-Rahmanir Rahim yang senantiasa kita baca di dalam sholat kita, yaitu yang tercantum dalam surat al-Fatihah; surat yang paling agung di dalam Kitab-Nya.

Sebab, dengan mengimani sifat rahmat Allah itulah seorang hamba akan mencintai Allah di atas kecintaannya kepada apa pun juga. Dengan mengimani sifat rahmat Allah pula seorang hamba akan terdorong untuk keluar dari kegelapan dosa menuju luasnya ampunan Allah dan rahmat-Nya. Karena keimanan kepada sifat rahmat Allah ini juga, seorang hamba akan berjuang untuk menggapai kedekatan dan kemuliaan di sisi-Nya (lihat Atsar al-Iman bi Shifatillahi fi Sulukil ‘Abdi Syaikh Ahmad bin Muhammad an-Najjar, hal. 13-20)

artikel: Pemuda Muslim