Niat Baik Saja Tidak Cukup

/ Oleh / Ahlus Sunnah, Manhaj / No comments
Niat Baik Saja Tidak Cukup

Suatu hal yang sebenarnya patut disyukuri adalah sebenarnya masyarakat kita masih memiliki niat yang baik untuk menegakkan agama Allāh. Jika kita sedang menasihati mereka ketika mereka melakukan suatu perbuatan yang sebetulnya tidak ada dasarnya dalam agama, kebanyakan mereka mengatakan, “Niat kami kan baik, ini adalah wujud kecintaan kami kepada Allāh dan Nabi Muhammad…”. Namun sayang, niat baik semata tidaklah cukup untuk mewujudkan kecintaan kepada Allāh dan rasūl-Nya. Akan tetapi, untuk mewujudkan kecintaan kepada Allāh dan rasūl-Nya, harus didasari dengan bimbingan Al-Qur`ān dan As-Sunnah. Mari kita renungkan kisah berikut yang menunjukkan bahwa niat baik semata tidaklah cukup untuk beribadah kepada Allāh Ta’ālā.

Suatu hari, ada tiga orang pemuda mendatangi rumah salah seorang istri Nabi allallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka datang untuk bertanya tentang ibadah Nabi allallāhu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu tentang bagaimana ibadah Nabi, lantas mereka menggangap sedikit ibadah yang dilakukan oleh Nabi allallāhu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, mereka berkata,

أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخَّرَ

Dimanakah posisi kita dibandingkan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam? Sungguh dosa-dosa beliau baik yang akan datang maupun yang terdahulu telah diampuni

Akhirnya, mereka bertiga pun berniat untuk lebih menggiatkan ibadah mereka. Orang pertama berkata,

أمَّا أنا فَأُصَلِّي اللَّيلَ أبدًا

Aku akan ṣālat sepanjang malam (dan tidak tidur)

Orang kedua berkata,

وَأَنَا أصُومُ الدَّهْرَ أَبَدًا وَلا أُفْطِرُ

Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan libur puasa sehari pun

Orang ketiga berkata,

وَأَنا أعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أتَزَوَّجُ أبَدًا

Aku akan menjauhi wanita dan tidak mau menikah selamanya

Lihatlah perbuatan ketiga orang tersebut. Bukankah niat ketiganya adalah niat yang baik? Bukankah mereka berniat ingin giat dan fokus beribadah?

Ketika rasūlullāh allallāhu ‘alaihi wa sallam menemui mereka, beliau bertanya,

أنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟

“Apakah kalian yang berkata ini dan itu?”

Sekarang, lihatlah komentar Rasūlullāh terhadap “niat baik” ketiga orang tersebut,

أَمَا واللهِ إنِّي لأخْشَاكُمْ للهِ، وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أصُومُ وَأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّساءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Demi Allāh, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allāh dan paling bertakwa kepada Allāh dibandingkan kalian. Akan tetapi, jika berpuasa, aku berbuka (tidak setiap hari berpuasa-pen). Aku ṣālat malam, tetapi aku juga tidur. Aku pun menikah dengan wanita. Maka, barangsiapa membenci sunnahku, dia bukan golonganku

(HR. Bukhari dan Muslim dari ṣahabat Anas bin Malik iyallāhu ‘anhu)

Faidah adī

Dari ḥadīṡ di atas, kita dapat mengambil faidah yang berharga, diantaranya adalah :

  1. Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah. Ini juga perkataan Ibnu Mas’ud iyallāhu ‘anhu.
  2. Besarnya Semangat para ṣahabat Nabi untuk lebih giat dalam beribadah.
  3. Terlarangnya ṣalat sepanjang malam dan tidak tidur sama sekali.
  4. Terlarangnya puasa dahr, yakni puasa sepanjang tahun setiap hari.
  5. Dianjurkannya menikah.
  6. Amal perbuatan yang hukumnya mubah atau sunnah bisa berubah hukumnya menjadi terlarang jika dikerjakan tidak sesuai dengan petunjuk Nabi allallāhu ‘alaihi wa sallam.
  7. Tidak berpegang dengan petunjuk Nabi dalam beribadah menyebabkan terjatuhnya seseorang ke dalam sikap berlebihan dalam beragama yang terlarang.
  8. Ibadah yang kita kerjakan harus ada dalilnya, tidak boleh mengamalkan suatu ibadah berdasarkan pendapat pribadi atau niat baik semata.
  9. Hadits ini adalah dalil terlarangnya bid’ah meskipun orang-orang menganggapnya baik. Sungguh indah ucapan Ibnu ‘Umar iyallāhu ’anhu, “Setiap bid’ah itu sesat meskipun dianggap baik oleh manusia”.
  10. Ancaman bagi orang yang menyelisihi sunnah Nabi.

Maka, pemuda muslim yang dirāhmati Allāh, sekali lagi, niat baik semata tidaklah cukup untuk beribadah kepada Allāh. Yang namanya ibadah itu harus ada dasarnya dalam agama, baik dari Al Qur`ān maupun Sunnah Nabi. Wallāhul Muwaffiq.

Wallāhu a’lam.

(Disarikan dari Bahjatun Nāirin Syarh Riyāis ālihīn karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, hal. 195-196, Dār Ibnul Jauzy, dengan sedikit tambahan dari penulis)

artikel: www.pemudamuslim.com

*sumber ilustrasi gambar: http://ht.ly/eS32m