Materi Dasar Keislaman

Berikut ini, kami sajikan secara sekilas gambaran materi-materi dasar keislaman yang semestinya diketahui oleh setiap muslim dan muslimah.

[1] Tauhid Kunci Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah dambaan setiap insan. Namun sayang, tidak semua orang mendapatkannya. Hanya orang-orang beriman saja lah yang bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang kafir itu seandainya mereka memiliki segala sesuatu yang ada di bumi seluruhnya dan yang serupa dengannya untuk menebus siksaan di hari kiamat nanti niscaya hal itu tidak akan diterima dari mereka, dan mereka layak untuk mendapatkan siksaan yang sangat menyakitkan.” (QS. al-Ma’idah: 36)

Banyak orang mengira dirinya pemilik kebahagiaan. Mereka optimis dengan amal dan usaha yang mereka lakukan. Padahal, sebenarnya amal mereka sia-sia, bagaikan debu yang berterbangan.

Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam kehidupan dunia tetapi mereka menyangka bahwa dirinya telah berbuat dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)

Kebahagiaan yang hakiki adalah dengan mewujudkan nilai-nilai keimanan dan mengikis segala bentuk kezaliman.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman. Mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (QS. al-An’am: 82)

Dan kezaliman terbesar yang harus diperangi adalah syirik dengan segala macam bentuknya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Luqman memberikan nasehat kepada anaknya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Oleh sebab itu tauhid merupakan kunci kebahagiaan yang paling utama sedangkan syirik merupakan sumber malapetaka.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. al-Ma’idah: 72)

Tidak ada lagi amal kebaikan yang bermanfaat di akhirat apabila seorang hamba meninggal di atas kemusyrikan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: Apabila kamu berbuat syirik pastilah akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65)

[2] Hakikat Tauhid

Tauhid adalah beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dalam beribadah dengan sesuatu apapun.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisaa’: 36)

Tauhid inilah yang menjadi ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala sesembahan kalian kecuali Dzat Yang telah menciptakan diriku, karena Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.” (QS. az-Zukhruf: 26-27).

Tauhid inilah yang menjadi intisari dakwah para nabi dan rasul kepada setiap umat mereka.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36).

Dengan tauhid, seorang hamba mempersaksikan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiyaa’: 25).

Karena hanya Allah yang menciptakan maka hanya Allah pula yang berhak untuk disembah.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian, yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, karena Allah adalah al-Haq/sesembahan yang benar, adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.” (QS. al-Hajj: 62).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ilah (sesembahan) kalian adalah ilah yang satu. Tidak ada ilah yang benar selain Dia. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 163).

Oleh sebab itu orang-orang musyrik ketika mendengar dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalimat laa ilaha illallah maka mereka pun mengatakan (yang artinya), “Apakah dia -Muhammad- akan menjadikan ilah-ilah itu menjadi satu ilah saja. Sungguh, ini adalah perkara yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu apabila dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah, maka mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan, “Apakah kami harus meninggalkan ilah-ilah/sesembahan-sesembahan kami gara-gara ucapan seorang penyair gila?”.” (QS. ash-Shaffat: 35-36)

Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun bersama -doa kalian kepada- Allah.” (QS. al-Jin: 18).

Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah menjelaskan, “Artinya janganlah kalian beribadah kepada siapapun selain kepada-Nya.” (lihat transkrip Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 15, lihat juga keterangan serupa oleh Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 35)

Jadi, tauhid bukanlah sekedar pengakuan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta dan penguasa alam semesta. Pengakuan semacam itu belumlah memasukkan ke dalam golongan orang yang bertauhid.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, ‘Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (QS. az-Zukhruf: 9)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (QS. az-Zukhruf: 87).

Begitu pula keyakinan bahwa Allah satu-satunya yang memberikan rizki, yang mematikan dan menghidupkan, yang mengatur segala urusan. Inipun belum cukup membuat orang dikatakan sebagai kaum yang bertauhid.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah: Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” (QS. Yunus: 31)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).

Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Fath al-Bari [13/556])

Hal ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa beribadah kepada Allah tanpa tauhid adalah amalan yang tidak akan diterima di sisi-Nya.

Allah ta’ala berfirman mengenai orang kafir/musyrik (yang artinya), “Dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah.” (QS. al-Kafirun: 3).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Maknanya; Kalian tidak beribadah sebagaimana ibadahku. Karena ibadah kalian dibangun di atas kesyirikan, oleh sebab itu ia bukan termasuk ibadah/penyembahan kepada Allah.” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/26-27] cet. Maktabah al-’Ilmu)

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ibadah tidaklah disebut dengan ibadah kecuali jika bersama dengan tauhid. Sebagaimana sholat tidak disebut sholat kecuali jika bersama dengan thaharah. Apabila syirik memasuki ibadah maka rusaklah ia, sebagaimana hadats yang menimpa pada orang yang telah bersuci.” (lihat al-Qawa’id al-Arba’, hal. 7).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.’.” (HR. Muslim no. 2985)

Ibadah adalah hak Allah semata, tidak ada yang berhak menerimanya kecuali Dia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab dengan benar, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya agama yang murni itu merupakan hak Allah.” (QS. az-Zumar: 2-3).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS. Ghafir: 14)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba atas Allah ‘azza wa jalla adalah Dia tidak akan mengazab orang-orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30)

Oleh sebab itu wajib bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari segala sesembahan selain Allah.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja…” (QS. al-Mumtahanah: 4).

Segala sesembahan selain Allah tidak menguasai manfaat dan madharat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu berdoa (beribadah) kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar termasuk orang yang berbuat zalim.” (QS. Yunus: 106).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang berdoa (beribadah) kepada selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memenuhi keinginannya hingga hari kiamat. Sementara mereka itu lalai dari doa yang dipanjatkan kepada mereka. Tatkala umat manusia dikumpulkan -di hari kiamat- maka sesembahan mereka itu justru menjadi musuh mereka. Dan mereka sendiri mengingkari peribadahan yang ditujukan kepada dirinya.” (QS. al-Ahqaf: 5-6)

Sungguh, tidak ada bukti dan landasan yang kuat bagi orang-orang yang beribadah dan berdoa kepada selain Allah.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang berdoa kepada sesembahan lain disamping doanya kepada Allah yang itu jelas tidak ada keterangan/pembenar atasnya, maka sesungguhnya hisabnya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. al-Mukminun: 117)

Oleh sebab itu seorang yang beriman hanya menggantungkan hati dan puncak harapannya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanyalah orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah maka hati mereka merasa takut, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka hal itu semakin menambah keimanan mereka, dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka semata.” (QS. al-Anfal: 2)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23).

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qor’awi menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan wajibnya memurnikan tawakal kepada Allah dan tidak boleh bertawakal kepada selain-Nya.” “Ayat ini juga menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah adalah salah satu jenis ibadah, sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah syirik.” (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 298)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Tawakal kepada Allah adalah salah satu kewajiban tauhid dan iman yang terbesar. Sesuai dengan kekuatan tawakal maka sekuat itulah keimanan seorang hamba dan bertambah sempurna tauhidnya. Setiap hamba sangat membutuhkan tawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala yang ingin dia lakukan atau tinggalkan, dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (lihat al-Qaul as-Sadid ‘ala Maqashid at-Tauhid, hal. 101)

[3] Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

Sahabat seakidah rahimakumullah, syahadat laa ilaha illallah adalah cabang keimanan yang tertinggi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [9] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [35], lafal ini milik Muslim)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” (lihat Syarh Muslim [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)

Syahadat inilah yang kelak akan menyelamatkan seorang hamba di hari kiamat. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk mendakwahi pamannya Abu Thalib agar mau mengucapkan kalimat ini sebelum kematiannya.

Sa’id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, “Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.” Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan laa ilaha illallah… (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jana’iz [1360] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [24])

Tentu saja yang dimaksud orang yang bersyahadat dengan sebenarnya adalah orang yang memahami kandungannya. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersyaratkan ilmu pada diri orang yang mengucapkan syahadat, jika dia memang ingin masuk ke dalam surga.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya dia akan masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [26])

Makna yang benar dari kalimat laa ilaha illallah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (laa ma’buda haqqun illallah).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, karena Allah adalah al-Haq/sesembahan yang benar, adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.” (QS. al-Hajj: 62) (lihat al-Qaul al-Mufid fi Adillat at-Tauhid, hal. 25 karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushobi).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ilah (sesembahan) kalian adalah ilah yang satu saja. Tidak ada ilah yang benar selain Dia. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 163).

Berdasarkan dalil-dalil yang ada, para ulama menerangkan bahwa kalimat tauhid mengandung 2 rukun:

  1. Nafi/penolakan; maksudnya adalah kita menolak segala sesembahan selain Allah
  2. Itsbat/penetapan; maksudnya adalah kita menetapkan bahwa hanya Allah semata sesembahan yang benar. Adapun sesembahan yang dipuja oleh orang musyrik adalah sesembahan yang batil (lihat makalah Ma’na Laa ilaha illallah wa Muqtadhaha wa Atsaruha fil Fardi wal Mujtama’ karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hal. 11)

[4] Kewajiban Merealisasikan Syahadat

Namun, memahami kandungan syahadat dan mengucapkannya pun belum cukup jika tidak disertai dengan amalan nyata di dalam kehidupan. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersyaratkan orang yang ingin masuk surga untuk membersihkan dirinya dari syirik.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.” Dan aku -Ibnu Mas’ud- berkata, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jana’iz [1238] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [92])

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka…” (lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hal. 23 cet. Dar Tsurayya 1424 H).

Ini menunjukkan bahwa mengucapkan syahadat belum bisa menyelamatkan jika tidak dibarengi dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amalan. Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh sembarangan mencurigai orang. Sebab yang menjadi patokan adalah apa yang tampak secara lahiriah. Adapun urusan batin kita serahkan kepada Allah ta’ala. Marilah, sejenak kita simak kisah Usamah bin Zaid berikut ini…

Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma menceritakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim kami untuk bertempur melawan kaum Huraqah. Kami pun menggempur mereka dan berhasil membuat mereka kocar-kacir. Aku bersama seorang Anshar mengikuti salah seorang diantara mereka. Tatkala kami berhasil meringkusnya, tiba-tiba dia mengucapkan laa ilaha illallah. Temanku dari kaum Anshar pun menahan diri, sedangkan aku terus menyerangnya dengan tombakku hingga dia tewas. Pada saat kami pulang, kejadian itu dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda, “Wahai Usamah! Apakah kamu membunuhnya padahal dia telah mengucapkan laa ilaha illallah?!”. Aku menjawab, “Orang itu hanya ingin cari selamat.” Dalam riwayat lain Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia mengucapkan kalimat itu karena takut dari tebasan pedang.” Dalam riwayat lain Nabi bertanya, “Apakah kamu membelah dadanya, sehingga bisa mengetahui apakah dia benar-benar mengucapkannya atau tidak?!” Dalam riwayat lain Nabi berkata, “Apa yang akan kamu lakukan dengan laa ilaha illallah apabila kelak ia datang pada hari kiamat?!”. Nabi terus mengulangi ucapan itu sampai-sampai aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu (HR. Bukhari dalam Kitab al-Maghazi [4269] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [96])

[5] Jalan Menuju Perealisasian Tauhid

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya cara mengagungkan Allah adalah dengan merealisasikan tauhid. Barangsiapa yang merealisasikan tauhid berarti dia telah mengagungkan-Nya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan tauhid sesungguhnya dia telah menyia-nyiakan hak Allah, meskipun sujud telah membekas di dahinya, walaupun puasa telah meninggalkan bekas di kulit yang membungkus tulangnya. Maka itu semua tidak ada artinya…” (lihat Syarh Kasyfu asy-Syubuhat fi at-Tauhid, hal. 4)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah, dan terus menerus dalam perbuatan dosa. Barangsiapa yang melakukannya maka berarti dia telah merealisasikan tauhidnya…” (lihat Qurrat al-’Uyun al-Muwahhidin, hal. 23).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya merealisasikan tauhid itu adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari kotoran syirik besar maupun kecil serta kebid’ahan yang berupa ucapan yang mencerminkan keyakinan maupun yang berupa perbuatan/amalan dan mensucikan diri dari kemaksiatan. Hal itu akan tercapai dengan cara menyempurnakan keikhlasan kepada Allah dalam hal ucapan, perbuatan, maupun keinginan, kemudian membersihkan diri dari syirik akbar -yang menghilangkan pokok tauhid- serta membersihkan diri dari syirik kecil yang mencabut kesempurnaannya serta menyelamatkan diri dari bid’ah-bid’ah.” (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 20)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah memaparkan bahwa merealisasikan laa ilaha illallah (baca: tauhid) adalah sesuatu yang sangat sulit. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata, “Setiap maksiat merupakan bentuk lain dari kesyirikan”. Sebagian salaf juga mengatakan, ”Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku untuk menggapai sesuatu yang lebih berat daripada ikhlas”. Tidak ada yang bisa memahami hal ini selain seorang mukmin. Adapun selain mukmin, tidak akan berjuang menundukkan jiwanya demi menggapai keikhlasan. Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, “Orang-orang Yahudi mengatakan: Kami tidak pernah diserang waswas dalam sholat”. Beliau menjawab, ”Apa yang perlu dilakukan oleh setan terhadap hati yang sudah hancur?”. Setan tidak perlu repot-repot meruntuhkan hati yang sudah hancur. Akan tetapi ia akan berjuang untuk meruntuhkan hati yang makmur. Oleh sebab itu, tatkala ada yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa terkadang seseorang -diantara para sahabat- mendapati di dalam hatinya sesuatu yang besar dan tidak sanggup untuk diucapkan -karena buruknya hal itu, pent-. Maka beliau berkata, ”Benarkah kalian merasakan hal itu?”. Mereka menjawab, “Benar”. Beliau pun bersabda, ”Itulah kejelasan iman.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [132]). Artinya itu adalah bukti keimanan kalian. Karena hal itu tidak akan bisa dirasakan kecuali oleh hati yang lurus dan bersih (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/38] cet. Maktabah al-’Ilmu)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tauhid tidak akan terealisasi pada diri seseorang kecuali dengan tiga perkara:

Pertama, ilmu; karena kamu tidak mungkin mewujudkan sesuatu sebelum mengetahui/memahaminya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad: 19).

Kedua, i’tiqad/keyakinan, apabila kamu telah mengetahui namun tidak meyakini dan justru menyombongkan diri/angkuh maka itu artinya kamu belum merealisasikan tauhid. Allah ta’ala berfirman mengenai orang-orang kafir (yang artinya), “Apakah dia -Muhammad- hendak menjadikan sesembahan-sesembahan -yang banyak- itu menjadi satu sesembahan saja, sungguh ini merupakan perkara yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5). Mereka -orang kafir- tidak meyakini keesaan Allah dalam hal peribadahan -meskipun mereka memahami seruan Nabi tersebut, pent-.

Ketiga, inqiyad/ketundukan, apabila kamu telah mengetahui dan meyakini namun tidak tunduk maka itu artinya kamu belum mewujudkan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu dahulu apabila dikatakan kepada mereka bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah maka mereka pun menyombongkan diri/bersikap angkuh dan mengatakan; apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara seorang penyair gila?” (QS. ash-Shaffat: 35-36) (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/55])

[6] Pengertian Iman

Iman adalah pembenaran yang mantap dan pengakuan yang sempurna terhadap segala perintah Allah dan rasul-Nya, menyakini dan tunduk kepadanya baik secara lahir maupun batin.

Iman meliputi pembenaran hati dan keyakinan yang memiliki konsekuensi amalan hati dan anggota badan. Oleh sebab itu para ulama menjelaskan bahwa iman adalah, “Ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan dan anggota badan.” Sehingga, iman adalah ucapan, amalan, dan keyakinan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan (lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarat al-Iman, hal. 7)

[7] Ucapan Para Ulama Salaf Tentang Iman

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua takut kemunafikan minimpa dirinya. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sejajar dengan keimanan Jibril dan Mika’il.” (lihat Fath al-Bari [1/137])

Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 47)

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan dengan hati. Ia dapat bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad al-Hadi ila Sabil ar-Rasyad oleh Syaikh Ibnu Utsaimin hal. 98)

[8] Hakikat Iman

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, bahwa iman merupakan sebuah hakikat syar’iyah. Sebab menurut para pakar ushul, hakikat terbagi menjadi tiga: hakikat syar’iyah, hakikat ‘urfiyah, dan hakikat lughowiyah. Ini artinya, pengertian iman di sini adalah dari sisi hakikat syar’iyah (hakikat agama), bukan hakikat ‘urfiyah (hakikat kebiasaan) ataupun hakikat lughowiyah (hakikat kebahasaan).

Beliau mencontohkan dengan sholat. Secara bahasa, sholat pada hakikatnya adalah doa. Semata-mata berdoa sudah disebut sebagai sholat secara bahasa. Akan tetapi dalam syari’at, hakikat sholat lebih luas daripada itu. Secara syari’at yang dimaksud dengan hakikat sholat adalah perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sehingga sholat terdiri dari ucapan dan perbuatan, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Itulah hakikat sholat dalam pandangan syari’at.

Demikian pula halnya dengan istilah puasa, zakat, dan haji. Ini semuanya adalah hakikat syar’iyah. Maka iman adalah suatu hakikat syar’iyah. Ia mencakup ucapan dengan lisan; yaitu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dan berdzikir, termasuk di dalamnya adalah mengucapkan tasbih dan tahlil. Kemudian, iman juga meliputi pembenaran dengan hati terhadap apa yang diucapkan oleh lisanmu. Iman juga mencakup amalan dengan anggota badan, yaitu dengan engkau menggerakkan anggota tubuhmu dalam rangka melakukan ibadah dan ketaatan, serta untuk meninggalkan kemaksiatan dan menahan diri dari berbagai perbuatan maksiat.

Ini artinya, iman bukan sekedar ucapan dengan lisan semata. Ia juga bukan semata-mata keyakinan di dalam hati. Iman juga bukan semata-mata amalan tanpa dilandasi keyakinan dan tanpa ucapan. Akan tetapi ketiga hal ini harus terwujud dan saling berkaitan erat satu sama lain. Iman itu akan meningkat dengan sebab melakukan ketaatan; setiap kali seseorang melakukan ketaatan maka bertambahlah imannya. Dan ia akan menurun dengan sebab kemaksiatan, sehingga setiap kali muncul perbuatan maksiat dari seseorang maka seketika itulah berkurang pula imannya (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan ini dalam Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 174-175)

Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah berkata, “Iman harus mencakup ketiga perkara ini; keyakinan, ucapan, dan amalan. Tidak cukup hanya dengan keyakinan dan ucapan apabila tidak disertai dengan amalan. Dan setiap ucapan dan amalan pun harus dilandasi dengan niat. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits, “Sesungguhnya setiap amalan itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907). Begitu pula, bersatunya ucapan, amalan, dan niat tidaklah bermanfaat kecuali apabila berada di atas pijakan Sunnah. Karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya maka pasti tertolak.” (Muttafaq ‘alaih). Dalam lafal Muslim disebutkan juga, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan dari tuntunan kami maka dia pasti tertolak.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani, hal. 145)

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa iman itu mencakup ucapan, keyakinan dan amalan ialah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya agama secara lurus, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, Ayat ini menunjukkan bahwa iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Karena Allah menamakan perkara-perkara ini sebagai agama yang lurus. Istilah agama dan iman adalah semakna. Yang dimaksud dengan agama yang lurus adalah millah/ajaran yang benar.” (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 181)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Bahkan, rasa malu juga merupakan salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Beliau menjadikan perkara-perkara ini semuanya sebagai bagian dari iman. Yaitu ucapan laa ilaha illallah, ini adalah ucapan. Menyingkirkan gangguan dari jalan, ini adalah amalan. Dan rasa malu sebagai cabang keimanan, maka ini adalah keyakinan…” (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 181)

Para ulama mengatakan, “Bukan termasuk paham Ahlus Sunah pendapat yang mengatakan bahwa iman adalah sekedar pembenaran hati! Atau pembenaran hati dan diiringi dengan ucapan lisan -saja- tanpa disertai amal anggota badan! Barangsiapa yang berpendapat semacam itu maka dia adalah orang yang sesat, dan ini merupakan -keyakinan- mazhab Murji’ah yang sangat buruk itu!” (lihat Mujmal Masa’il al-Iman al-Ilmiyah, disusun oleh Husain al-Awaisyah, Muhammad bin Musa Alu Nashr, Salim al-Hilali, Ali al-Halabi, dan Masyhur Hasan Salman, hal. 14).

[9] Iman Bertambah dan Berkurang

Iman dapat mengalami peningkatan dan penurunan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya mereka maka bertambahlah keimanan mereka, dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. al-Anfal: 2).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa iman itu bertambah. Apabila seorang insan mendengar al-Qur’an maka bertambahlah imannya. Dan apabila dia jauh dari al-Qur’an maka berkuranglah imannya.” (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 175)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah juga memaparkan, bahwasanya keimanan umat manusia tidaklah berada dalam derajat yang sama. Iman Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu -misalnya- bisa menyamai keimanan segenap umat ini. Sehingga tidaklah sama antara keimanan Abu Bakar dengan iman yang ada pada kaum muslimin yang fasik. Ini adalah perkara yang sudah jelas. Adapun orang yang mengatakan bahwa iman itu sekedar pembenaran di dalam hati, dan bahwasanya ia tidak bettingkat-tingkat, maka ini adalah perkataan kaum Murji’ah. Menurut pandangan mereka iman Abu Bakar dengan iman orang yang paling fasik adalah sama. Jelas ini adalah kekeliruan yang sangat fatal (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 178)

Abdullah -putra Imam Ahmad bin Hanbal- pernah mendengar ada yang bertanya kepada ayahnya mengenai paham Murji’ah, maka beliau menjawab, “Adapun kami -Ahlus Sunnah- mengatakan bahwa iman itu ucapan dan amalan, ia bertambah dan berkurang. Apabila seorang berzina dan meminum khamr maka berkuranglah iman orang tersebut.” (lihat as-Sunnah [1/307]).

Abdullah juga menuturkan: Ayahku menuturkan kepadaku. Dia berkata: Abu Nu’aim menuturkan kepada kami. Dia berkata: Aku mendengar Sufyan -yaitu ats-Tsauri- berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.” (lihat as-Sunnah [1/310]). Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan, “Iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” (lihat Sahih al-Bukhari, hal. 14).

[10] Pentingnya Iman Kepada Hari Akhir

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kalian berusaha lari darinya itu pasti akan menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui perkara ghaib maupun perkara yang tampak lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian apa saja yang telah kalian kerjakan -di dunia-.” (QS. al-Jumu’ah: 8)

Iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman. Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “[Iman itu adalah] kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim no. 1)

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu ciri orang yang beruntung. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada nabi sebelum kamu, dan terhadap hari akherat mereka pun meyakini. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Baqarah: 4-5)

Iman kepada hari akhir merupakan cambuk yang akan melecut semangat seorang hamba agar memiliki pandangan jauh ke depan dan tidak terlena oleh kehidupan yang sementara di alam dunia.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Jadilah kalian anak-anak akherat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal dan belum ada hisab, sedangkan besok yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi waktu untuk beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq dalam Kitab ar-Riqaq, lihat Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1307).

Iman kepada hari akhir juga menjadi motivasi bagi setiap hamba dalam menggapai kebahagiaan sebenarnya di sisi Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia dari Allah, Allah memberikannya kepada siapa pun yang dikehendaki oleh-Nya. Allah adalah pemilik karunia yang sangat agung.” (QS. al-Hadid: 21).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang masuk surga maka dia akan selalu senang dan tidak akan merasa susah. Pakaiannya tidak akan usang dan kepemudaannya tidak akan habis.” (HR. Muslim no. 2836).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang salih kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia.” (HR. Bukhari no. 3244 dan Muslim no. 2824)

Iman kepada hari akhir juga mengingatkan setiap muslim tentang pentingnya tauhid dalam kehidupannya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berkata kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya, ‘Seandainya kamu memiliki kekayaan seluruh isi bumi ini apakah kamu mau menebus siksa dengannya?’. Dia menjawab, ‘Iya.’ Allah berfirman, ‘Sungguh Aku telah meminta kepadamu sesuatu yang lebih ringan daripada hal itu tatkala kamu masih berada di tulang sulbi Adam agar kamu tidak mempersekutukan-Ku, akan tetapi kamu enggan melainkan bersikukuh untuk berbuat syirik.’.” (HR. Bukhari no. 3334 dan Muslim no. 2805)

[11] Mengenal Syirik

Syirik merupakan lawan dari tauhid. Apabila kita telah mengenal bahwa tauhid adalah ‘pengesaan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya’, maka dengan mudah kita bisa mendefinisikan syirik sebagai ‘mempersekutukan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya‘. Dengan demikian, syirik bisa dibagi menjadi 3; syirik dalam hal rububiyah, syirik dalam hal uluhiyah, dan syirik dalam hal asma’ wa shifat.

Syirik dalam hal rububiyah misalnya meyakini adanya pencipta, pengatur dan pengendali alam semesta ini selain Allah. Syirik dalam hal uluhiyah misalnya berdoa dan menyembelih kurban kepada selain Allah. Adapun syirik dalam hal asma’ wa shifat misalnya meyakini bahwa selain Allah ada yang mengetahui perkara ghaib semacam keyakinan terhadap dukun dan paranormal.

Penggunaan istilah syirik secara umum lebih mengacu kepada syirik dalam hal uluhiyah, sebab itulah yang lebih banyak terjadi dan menjadi target utama dakwah para rasul ‘alaihimush sholatu was salam.

Syirik terbagi menjadi dua:

  1. Syirik akbar; yaitu segala sesuatu yang disebut sebagai kesyirikan oleh pembuat syari’at dan padanya terkandung tindakan keluar dari agama
  2. Syirik asghar; yaitu segala perbuatan atau ucapan yang disebut sebagai syirik atau kekafiran namun berdasarkan dalil-dalil yang lain diketahui bahwa ternyata hal itu tidak mengeluarkan dari agama (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 20)

[12] Dampak Perbuatan Syirik

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’: 48).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim dalam Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa’iq [2985])